August 20, 2014

Hidup rukun, hidup toleransi!

Saat ini Indonesia sedang dalam fase yang mengkhawatirkan, kecintaan terhadap sesuatu telah menjadi hal yang seolah-olah menjadi fanatisme buta. Ini yang terjadi kala kita mudah terpojokan oleh doktrin-doktrin media, membunuh rasa toleransi kita. Sebagai warga Negara Indonesia yang berada dalam ‘bhineka tunggal ika’ setiap warga negara ingin hidup bahagia, tidak seorang pun yang ingin tak bahagia. Dalam konteks ini, semua warga negara adalah sama. Kita semua memiliki rasa, setiap individu ingin disukai dan diterima dalam lingkungannya, setiap individu tak ingin di musuhi maupun dianiaya. Hal seperti ini lah yang sangat di inginkan semua warga, hidup rukun antarumat beragama.

Bila kita main ke daerah Bogor, maka tak salah jika main ke Desa Ciampea. Di dekat Pasar Lama Ciampea, kita akan menemukan pemandangan yang sangat jarang kita temui mengenai toleransi antarumat beragama. Di sekitar Pasar Lama, terdapat berbagai macam etnis, etnis sunda dan tionghoa yang menjadi etnis terbanyak disana selain etnis-etnis yang lain yang tinggal di dekat Pasar Lama. Dengan banyaknya etnis yang menduduki Desa tersebut, maka di Pasar Lama kita akan menemukan berbagai macam tempat peribadatan umat beragama. Ada mesjid, klenteng, vihara, dan gereja yang berdiri sangat berdekatan. Fenomena ini menjadi salah satu hal yang unik dalam toleransi beragama.

Beragam agama dan etnis yang ada di Desa Ciampea ini bisa menjadi tolak ukur kita untuk hidup bermasyarakat, hidup rukun dan saling toleransi terhadap agama. Di desa ini tidak pernah sekali pun ada ancaman-ancaman yang menyangkut masalah etnis dan agama, atau sekalipun tak pernah ada pengusiran atau pembunuhan seperti yang terjadi di Iraq saat ini.

Warga Desa Ciampea di dekat pasar tak sekalipun mempermasalahkan perbedaan agama, justru yang terjadi malah sebaliknya, mereka sangat menjunjung tinggi hidup rukun yang sudah terjadi bertahun-tahun ini. Toleransi beragama disini sangat tinggi, masyarakat tidak mau kerukunan ini rusak hanya karena sentimentil perbedaan agama.

Setiap warga dapat merasakan kenikmatan dari hidup rukun, warga dapat melakukan transaksi jual beli dipasar dengan nyaman, setiap umat beragama yang ingin beribadah dengan khusuk melakukan ibadahnya tanpa adanya ancaman dari kelompok tertentu. Bahkan tidak jarang tempat peribatan melakukan aksi sosial untuk kesejahteraan warga yang kurang mampu.

“Jika sedang ada hari besar agama, tidak jarang dari setiap tempat peribatan melakukan kegiatan sosial seperti bagi-bagi bahan pokok untuk warga yang kurang mampu. Semua di data tanpa melihat agama apa yang di anutnya.” Kata Andreaz salah satu aparat Desa Ciampea.

Bahwa meskipun ada perbedaan-perbedaan dalam keyakinan di antara kita semua yang hidup dalam masyarakat tertentu, budi pekerti tidak semata-mata bergantung pada seperangkat nilai-nilai keagamaan tertentu, tapi ada seperangkat budi pekerti yang berdasar pada nilai-nilai dasar manusia yang diterima secara umum oleh semua agama. Siapa yang tak ingin hidup rukun? Hidup Toleransi Beragama!

August 02, 2014

Meninggalkan yang Tersenyum

Tuhan, malam ini aku ingin bersandar pada-Mu.
Boleh kah akal berpikirku untuk bebas berpikir.
Aku hanya ingin bertanya, sedikit gundah.
Kenapa Kau memberiku senang, lalu Kau ambil di kemudian hari?

Tuan, mengapa kita tidak saling bertatap mata untuk sekedar berbincang?
Padamu, aku menaruh rasa hormat. Hanya sekedar ingin memperkenalkan diriku.
Dan ada beberapa yang ingin ku sampaikan, tentang darah dagingmu.
Kali ini berbeda, bukan aku yang waktu dulu.

Apa Tuan tidak sependapat dengan Tuhan?
Adakah rencana Tuhan untuk Tuanku?
Atau memang kita tidak pernah berada dalam buku cerita yang sama.
Untuk kisahku, dan kebahagianmu.

Jika memang kita terdiri dari dua kisah.
Lalu siapa yang siap untuk tersenyum meninggalkan.
Dan terisak ketika ditinggalkan?
Aku rindu ~

August 01, 2014

Malam makin larut

Pernah sesekali main ke tempat pemakaman lalu ngeliat tanggal lahir dan wafatnya yang sudah mendahulukan kita? Variatif hasilnya jika kita menghitung berapa lama mereka hidup. Hal seperti itu yang mengingatkan kita terhadap berapa lama lagi kita akan hidup.

Hal yang paling dekat dengan kita adalah kematian, dimana tidak ada seorang pun yang tau kapan kita meninggalkan orang yang kita cintai. Pertanyaannya, bagi yang sudah berkeluarga, sudah menyiapkan apa untuk orang-orang yang kita tinggalin? atau bagi yang masih menyendiri, hal apa yang sudah di siapkan untuk pasangannya.

Selama kita hidup ini, sudah pernah dapet pengalaman apa? Sudah punya tabungan (amal) berapa untuk disana. Kalau kita bisa melihat kehidupan mereka yang sudah mendahulukan, sudah berapa banyak mereka melakukan kebaikan atau sudah berapa banyak mereka mempunyai sebuah pengalaman.

Tahun ketahun, semakin menua, semakin dekat dengan kematian. Kesenangan di dunia pun mungkin banyak yang terlewatkan, atau bahkan justru terlena dengan kemanjaan yang terfasilitasi di dunia. Maha besar pencipta dengan segala rahasia-Nya.

Pertanyaan-pertanyaan itu yang saat ini terkumpul di otak saya, persiapan demi persiapan di siapkan untuk hal yang tidak terduga (kematian). Kerja keras, amal, ibadah, semua di lakukan untuk hidup di dunia. Tujuannya untuk kebahagian mereka yang di tinggal dan untuk saya sendiri di akhirat.

Tulisan ini untuk perenungan malam yang semakin larut.