Saat
ini Indonesia sedang dalam fase yang mengkhawatirkan, kecintaan terhadap
sesuatu telah menjadi hal yang seolah-olah menjadi fanatisme buta. Ini yang
terjadi kala kita mudah terpojokan oleh doktrin-doktrin media, membunuh rasa
toleransi kita. Sebagai warga Negara Indonesia yang berada dalam ‘bhineka tunggal ika’ setiap warga negara
ingin hidup bahagia, tidak seorang pun yang ingin tak bahagia. Dalam konteks
ini, semua warga negara adalah sama. Kita semua memiliki rasa, setiap individu
ingin disukai dan diterima dalam lingkungannya, setiap individu tak ingin di
musuhi maupun dianiaya. Hal seperti ini lah yang sangat di inginkan semua
warga, hidup rukun antarumat beragama.
Bila
kita main ke daerah Bogor, maka tak salah jika main ke Desa Ciampea. Di dekat
Pasar Lama Ciampea, kita akan menemukan pemandangan yang sangat jarang kita
temui mengenai toleransi antarumat beragama. Di sekitar Pasar Lama, terdapat
berbagai macam etnis, etnis sunda dan tionghoa yang menjadi etnis terbanyak
disana selain etnis-etnis yang lain yang tinggal di dekat Pasar Lama. Dengan
banyaknya etnis yang menduduki Desa tersebut, maka di Pasar Lama kita akan
menemukan berbagai macam tempat peribadatan umat beragama. Ada mesjid,
klenteng, vihara, dan gereja yang berdiri sangat berdekatan. Fenomena ini
menjadi salah satu hal yang unik dalam toleransi beragama.
Beragam
agama dan etnis yang ada di Desa Ciampea ini bisa menjadi tolak ukur kita untuk
hidup bermasyarakat, hidup rukun dan saling toleransi terhadap agama. Di desa
ini tidak pernah sekali pun ada ancaman-ancaman yang menyangkut masalah etnis
dan agama, atau sekalipun tak pernah ada pengusiran atau pembunuhan seperti
yang terjadi di Iraq saat ini.
Warga
Desa Ciampea di dekat pasar tak sekalipun mempermasalahkan perbedaan agama,
justru yang terjadi malah sebaliknya, mereka sangat menjunjung tinggi hidup
rukun yang sudah terjadi bertahun-tahun ini. Toleransi beragama disini sangat
tinggi, masyarakat tidak mau kerukunan ini rusak hanya karena sentimentil perbedaan
agama.
Setiap
warga dapat merasakan kenikmatan dari hidup rukun, warga dapat melakukan
transaksi jual beli dipasar dengan nyaman, setiap umat beragama yang ingin
beribadah dengan khusuk melakukan ibadahnya tanpa adanya ancaman dari kelompok
tertentu. Bahkan tidak jarang tempat peribatan melakukan aksi sosial untuk
kesejahteraan warga yang kurang mampu.
“Jika
sedang ada hari besar agama, tidak jarang dari setiap tempat peribatan
melakukan kegiatan sosial seperti bagi-bagi bahan pokok untuk warga yang kurang
mampu. Semua di data tanpa melihat agama apa yang di anutnya.” Kata Andreaz salah satu
aparat Desa Ciampea.
Bahwa meskipun ada perbedaan-perbedaan dalam
keyakinan di antara kita semua yang hidup dalam masyarakat tertentu, budi
pekerti tidak semata-mata bergantung pada seperangkat nilai-nilai keagamaan
tertentu, tapi ada seperangkat budi pekerti yang berdasar pada nilai-nilai
dasar manusia yang diterima secara umum oleh semua agama. Siapa yang tak ingin hidup rukun? Hidup Toleransi
Beragama!



